Bahaya fanatisme golongan
Pertandingan sepakbola saat persib berhadapan melawan persija yang diadakan di Bandung hari minggu tanggal 23 September 2018 kemarin berlangsung dramatis berkat goal dimenit akhir oleh tim persib dan membawa persib meraih kemenangan dikandang sendiri.
Bagi pendukung persib ini menjadi sebuah kesenangan tersendiri melihat tim kesayangannya menang melawan persija. Namun kesenangan itu terasa hambar dan tidak berarti apa-apa setelah beberapa jam kemudian beredar kabar dimedia sosial bahwa telah terjadi pengeroyokan disekitar stadion sebelum pertandingan dimulai yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia.
Saat saya melihat video pengeroyokan, hati ini terasa diiris dan tak tega melihatnya. Sudah seperti tikus yang dibunuh dengan dipukul oleh banyak orang, dan ini bukan tikus melainkan manusia, dengan bangganya mereka memukul korban tanpa ada rasa kasihan membabi buta seolah-olah darah sesama islam, sesama bangsa itu halal untuk dibunuh.
Seketika diriku merenung dengan kejadian tadi, mencoba mencari inti masalahnya karena kejadian ini sering terjadi bukan hanya didalam sepakbola bentrokan antar suporter saja tapi suku ras dan agama juga banyak kejadiannya bahkan bukan hanya berbeda agama diagama yang samapun demikian.
Dengan pemahaman yang didapat saat mengkaji agama islam dengan ilmu pengetahun dan pola berpikir yang rasional saya coba menggali letak inti masalah dari kasus yang tidak pernah usai ini.
Jika kita lihat, cara pandang masyarakat yang masih mementingkan golongannya dan tidak mempedulikan nilai-nilai universal menjadi penyebab utama, fanatisme buta terhadap golongan atau kelompok tertentu tertentu.
Sempat dibahas diartikel sebelumnya, orang seperti ini sulit rasanya mendengarkan apalagi menerima masukan dari orang lain yang bukan dari golongannya. Yang penting golongannya benar dan selalu benar. Jika salah dan disalahkan tidak jarang mereka menyerang orang yang menyalahkan bahkan sampai ada kontak fisik terjadi.
Akhirnya memang sangat dibutuhkan kedewasaan bagi setiap orang, ditanamkan sejak kecil untuk menilai secara objektif semua masalah yang ada, bukan malah diprovokasi untuk membenci suatu golongan. Peran orangtua juga penting disini, selain itu menanamkan nilai-nilai agama sejak dini pun penting agar kelak mengetahui bahwa membunuh itu tidak dianjurkan oleh agama apalagi tanpa penyebab dan keadaannya bukan sedang berperang.
Islam mengajarkan persatuan umat dimana sejarah merekam apapun banimu, warna kulitmu, kaya atau miskin dimata Allah SWT sama, hanya amalannya lah yang membedakan.
Itulah yang harus kita usahakan bagi permasalahan yang sudah mengerak ini, tanpa ada kesadaran dari masyarakat untuk berubah sulit rasanya menangani masalah ini, tapi saya yakin suatu saat bisa terpecahkan.
Mari kita jaga persaudaraan antar umat agar negara Indonesia tercinta ini tidak hancur dan tetap mengarah kearah kemajuan.
#ODOP_6 #komunitasonedayonepost
Bagi pendukung persib ini menjadi sebuah kesenangan tersendiri melihat tim kesayangannya menang melawan persija. Namun kesenangan itu terasa hambar dan tidak berarti apa-apa setelah beberapa jam kemudian beredar kabar dimedia sosial bahwa telah terjadi pengeroyokan disekitar stadion sebelum pertandingan dimulai yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia.
Saat saya melihat video pengeroyokan, hati ini terasa diiris dan tak tega melihatnya. Sudah seperti tikus yang dibunuh dengan dipukul oleh banyak orang, dan ini bukan tikus melainkan manusia, dengan bangganya mereka memukul korban tanpa ada rasa kasihan membabi buta seolah-olah darah sesama islam, sesama bangsa itu halal untuk dibunuh.
Seketika diriku merenung dengan kejadian tadi, mencoba mencari inti masalahnya karena kejadian ini sering terjadi bukan hanya didalam sepakbola bentrokan antar suporter saja tapi suku ras dan agama juga banyak kejadiannya bahkan bukan hanya berbeda agama diagama yang samapun demikian.
Dengan pemahaman yang didapat saat mengkaji agama islam dengan ilmu pengetahun dan pola berpikir yang rasional saya coba menggali letak inti masalah dari kasus yang tidak pernah usai ini.
Jika kita lihat, cara pandang masyarakat yang masih mementingkan golongannya dan tidak mempedulikan nilai-nilai universal menjadi penyebab utama, fanatisme buta terhadap golongan atau kelompok tertentu tertentu.
Sempat dibahas diartikel sebelumnya, orang seperti ini sulit rasanya mendengarkan apalagi menerima masukan dari orang lain yang bukan dari golongannya. Yang penting golongannya benar dan selalu benar. Jika salah dan disalahkan tidak jarang mereka menyerang orang yang menyalahkan bahkan sampai ada kontak fisik terjadi.
Akhirnya memang sangat dibutuhkan kedewasaan bagi setiap orang, ditanamkan sejak kecil untuk menilai secara objektif semua masalah yang ada, bukan malah diprovokasi untuk membenci suatu golongan. Peran orangtua juga penting disini, selain itu menanamkan nilai-nilai agama sejak dini pun penting agar kelak mengetahui bahwa membunuh itu tidak dianjurkan oleh agama apalagi tanpa penyebab dan keadaannya bukan sedang berperang.
Islam mengajarkan persatuan umat dimana sejarah merekam apapun banimu, warna kulitmu, kaya atau miskin dimata Allah SWT sama, hanya amalannya lah yang membedakan.
Itulah yang harus kita usahakan bagi permasalahan yang sudah mengerak ini, tanpa ada kesadaran dari masyarakat untuk berubah sulit rasanya menangani masalah ini, tapi saya yakin suatu saat bisa terpecahkan.
Mari kita jaga persaudaraan antar umat agar negara Indonesia tercinta ini tidak hancur dan tetap mengarah kearah kemajuan.
#ODOP_6 #komunitasonedayonepost

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkunjung diblog saya..
Saran dan kritik yang membangun dikolom komentar sangat bermanfaat bagi proses belajar saya...
Berdiskusi bisa dikolom komentar...