Belajar adalah koentji

Sahabat youngsterfillah saat ini berada di usia muda/remaja. Suatu masa yg akan menentukan sukses/tidaknya dengan apa yg akan terjadi kelak di masa dewasa/tua. Masa Dewasa adalah kesinambungan dari masa muda kita saat ini.
Apabila kita gagal di masa muda kita, sudah pasti di masa dewasa/tua pun ya akan gagal.
Begitu pula SEBALIKNYA.

Bayangkan, kita sedang berada di sebuah jalan yg panjang & tak berujung. Kita berjalan tanpa tau tujuan akhirnya. Bukankah itu membuang tenaga dan waktu?
Tunggu, mungkin bukan jalannya yg tak berujung, namun kita yg tidak menentukan ujungnya. Sehingga kita terus berjalan tanpa mengetahui kemana harus melangkah.
Tak ada alasan untuk berjalan, dan tak ada alasan untuk berhenti. Kita seperti tak punya pilihan, berjalan hanya karena keadaan.
Padahal kita sama2 tau bahwa hanya ikan yg mati yg selalu terbawa arus.

Mungkin seperti itulah keadaan remaja zaman now. Berawal dari penyakit malas berpikir, lalu berdampak kepada memiliki kehidupan tanpa tujuan, tanpa visi. Mereka beranggapan, "udah yg penting happy aja dulu, mumpung masih muda." Lalu dengan segala kesenangan, masa muda pun diisi dengan kegiatan sia-sia. Seolah-olah mereka telah mengantongi garansi resmi dari Allah untuk berumur panjang, hingga ada jargon favorit, "muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga."
Sebuah jargon yg ngawur, sebab hidup ini adalah pilihan & pengorbanan, tak mungkin kita bisa mendapatkan kebahagiaan tanpa adanya proses memperjuangkannya, dan proses memperjuangkannya tsb bukanlah suatu jalan yg flat atau mulus, sebagaimana Allah SWT firmankan di dalam Q.S al-balad dan Q.S Al-Baqarah: 214

Melihat kondisi demikian, tidak heran kalau banyak remaja yg terlihat bahagia tapi sebenarnya kosong, tampak pintar tapi kosong, kosong dalam artian tidak membawa energi apapun.
Seseorang yg merasa mendapatkan kesenangan dalam dirinya, namun tidak merasa bahwa kesenangan tsb tidaklah bertahan lama. Maka dari itu seiring dengan berjalannya waktu, ia akan mencari kesenangan yg baru tanpa mencari seperti apa hakikat kesenangan itu sendiri. Senang tapi kosong.
Seseorang merasa menjadi manusia pintar dengan segudang ilmu yg didapat di bangku sekolah dan puluhan buku tebal yg dilahapnya setiap hari, namun tidak merasa bahwa ilmu yg ia miliki harus diamalkan untuk memberi manfaat kepada orang lain. Ia malah justru terkungkung di dunia pendidikan tanpa berusaha mencari tau apa yg sebenarnya menjadi hakikat seorang yang berilmu.

Man-teman sahabat youngsterfillah, apa dampak yg akan terjadi bila hal tsb dibiarkan saja?
Tentu masa muda yg seharusnya dipersiapkan untuk menghadapi masa dewasa justru akan gagal, remaja akan kehilangan arah, tak tau tujuan, yg penting sekedar hidup/hidup untuk kepentingan dirinya sendiri.
Padahal ia adalah nasib bangsa ini di masa yg akan datang??

Nah, teman-teman, solusi satu-satunya untuk menghadapi hal tersebut adalah dengan belajar dan belajar, kita harus tau cita-cita yg benar, tentang tujuan hidup. Namun ilmu Allah masih luas, kita harus terus menggali ilmu tersebut agar selamat dunia dan akhirat.
Salah satu prinsip dalam menjalani cita-cita adalah harus istiqomah/sabar.
Sabar dalam belajar, dalam mengikuti kajian, dalam keaktifan di kegiatan keislaman.
Semoga kita semua memiliki sifat istiqomah, sehingga bisa mengantarkan man-teman menjadi lebih dari sekedar remaja kebanyakan di luar sana, yg peduli akan agama, yg peduli akan kajian islam yg ada pertanggung jawabannya, dan tau nilai penting serta berperan di aktif dakwah islamiyah, yg tau akan tujuan yg benar dan berusaha untuk mencapainya.
Sekali lagi, Semua itu di dapatkan dengan belajar, yg didukung oleh sikap istiqomah
.
Bahkan Imam Syafi'i pernah berkata:
"Lakukanlah shalat jenazah untuk orang yg enggan belajar di masa mudanya, sebab ia tak pantas dibilang hidup."

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya hidup sederhana

Islam dan kehidupan : islam menciptakan kebersamaan

Sistem sempurna kehamilan, penambahan keimanan