Hati-hati dalam memilih sahabat
Sahabat youngsterfillah...
Kata orang, masa sekolah menengah atas atau kejuruan adalah masa-masa yang paling indah. Salah satu keindahannya adalah menemukan sahabat-sahabat sejati yang selalu bersama dalam menempuh pendidikkan. Sahabat seperjuangan dalam belajar, berdiskusi, berbagi cerita, berbagi kebahagiaan, dan berbagi nasib sial. Seorang sahabat berbeda dengan teman apalagi kenalan. Seseorang dikatakan sebagai sahabat jika sudah mengalami dinamika suka duka yang mendalam atau intens, terlepas dari nilai benar salahnya. Dinamika inilah yang membentuk ikatan dan chemistry antara dua orang atau lebih. Indikasinya dapat terlihat dari memudarnya batas-batas pribadi. Seperti tidak sungkan lagi menceritakan masalah pribadi, hingga saling menyebut nama orang tua.
Intensitas relasi yang terbentuk secara sadar maupun tidak sadar, saling memberikan corak. Baik secara pemikiran, kepribadian, maupun pendirian. Seringkali mengatasnamakan solidaritas, atau menjaga perasaan sahabat, kita mau saja diajak melakukan sesuatu, malah jadinya cenderung ikut-ikutan. Padahal sebenarnya kita sendiri tidak begitu suka dengan ajakan tersebut. Tapi karena gak enak, sungkan, takut marah, pada akhirnya mengorbankan perasaan. Masih mending jika diajak ke arah yang positif. Jika seandainya diajak melakukan perbuatan yang sia-sia bahkan ke arah Kriminal? Sahabat males ikut males. Sahabat nongkrong ikut nongkrong sampe habis uang banyak. Sahabat pacaran ikut pacaran. Sahabat begal ikut begal.
Saking hanyutnya dalam dominasi drama persahabatan, terkadang kita lupa terhadap prinsip dan aturan dalam persahabatan. Seringkali yang diagungkan adalah persahabatan itu sendiri, solidaritas itu sendiri, kekompakan itu sendiri, tanpa melihat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Padahal persahabatan itu hakikatnya adalah sarana guna mencapai tujuan yang sulit untuk dicapai jika dilakukan seorang diri. Bukan hanya sekedar belajar bareng, main bareng, cerita bareng, atau berbareng saja. Berbarengan inilah yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Paradigma “makan ga makan asal kumpul,” atau “gaada loe ga rame,” Disadari pula bisa jadi ini terpengaruh oleh kultur orang Indonesia yang senang berkumpul dan bersama, yang akhirnya menjadi tujuan itu sendiri.
Hal yang seringkali dilupakan adalah perlunya prinsip dan aturan dalam menjalin persahabatan. Mau dibawa kemanakah hubungan persahabatan ini? Apakah menuju kemajuan ataukah kemunduran? Atau Cuma gitu-gitu aja? Betapa besarnya pengaruh pertemanan ini, disinggung pula dalam Al Quran yaitu;
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya[1064], seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul." Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan[1065] itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” Al Furqaan 27 – 29
Ayat diatas menggambarkan penyesalan akibat orang yang keliru dalam memilih teman ketika hidup di dunia. Spesifiknya adalah teman yang menjauhkan dari kebenaran Al quran.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Kata orang, masa sekolah menengah atas atau kejuruan adalah masa-masa yang paling indah. Salah satu keindahannya adalah menemukan sahabat-sahabat sejati yang selalu bersama dalam menempuh pendidikkan. Sahabat seperjuangan dalam belajar, berdiskusi, berbagi cerita, berbagi kebahagiaan, dan berbagi nasib sial. Seorang sahabat berbeda dengan teman apalagi kenalan. Seseorang dikatakan sebagai sahabat jika sudah mengalami dinamika suka duka yang mendalam atau intens, terlepas dari nilai benar salahnya. Dinamika inilah yang membentuk ikatan dan chemistry antara dua orang atau lebih. Indikasinya dapat terlihat dari memudarnya batas-batas pribadi. Seperti tidak sungkan lagi menceritakan masalah pribadi, hingga saling menyebut nama orang tua.
Intensitas relasi yang terbentuk secara sadar maupun tidak sadar, saling memberikan corak. Baik secara pemikiran, kepribadian, maupun pendirian. Seringkali mengatasnamakan solidaritas, atau menjaga perasaan sahabat, kita mau saja diajak melakukan sesuatu, malah jadinya cenderung ikut-ikutan. Padahal sebenarnya kita sendiri tidak begitu suka dengan ajakan tersebut. Tapi karena gak enak, sungkan, takut marah, pada akhirnya mengorbankan perasaan. Masih mending jika diajak ke arah yang positif. Jika seandainya diajak melakukan perbuatan yang sia-sia bahkan ke arah Kriminal? Sahabat males ikut males. Sahabat nongkrong ikut nongkrong sampe habis uang banyak. Sahabat pacaran ikut pacaran. Sahabat begal ikut begal.
Saking hanyutnya dalam dominasi drama persahabatan, terkadang kita lupa terhadap prinsip dan aturan dalam persahabatan. Seringkali yang diagungkan adalah persahabatan itu sendiri, solidaritas itu sendiri, kekompakan itu sendiri, tanpa melihat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Padahal persahabatan itu hakikatnya adalah sarana guna mencapai tujuan yang sulit untuk dicapai jika dilakukan seorang diri. Bukan hanya sekedar belajar bareng, main bareng, cerita bareng, atau berbareng saja. Berbarengan inilah yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Paradigma “makan ga makan asal kumpul,” atau “gaada loe ga rame,” Disadari pula bisa jadi ini terpengaruh oleh kultur orang Indonesia yang senang berkumpul dan bersama, yang akhirnya menjadi tujuan itu sendiri.
Hal yang seringkali dilupakan adalah perlunya prinsip dan aturan dalam menjalin persahabatan. Mau dibawa kemanakah hubungan persahabatan ini? Apakah menuju kemajuan ataukah kemunduran? Atau Cuma gitu-gitu aja? Betapa besarnya pengaruh pertemanan ini, disinggung pula dalam Al Quran yaitu;
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya[1064], seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul." Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan[1065] itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” Al Furqaan 27 – 29
Ayat diatas menggambarkan penyesalan akibat orang yang keliru dalam memilih teman ketika hidup di dunia. Spesifiknya adalah teman yang menjauhkan dari kebenaran Al quran.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkunjung diblog saya..
Saran dan kritik yang membangun dikolom komentar sangat bermanfaat bagi proses belajar saya...
Berdiskusi bisa dikolom komentar...