Inspirasi membangun masyarakat seimbang


"Gunung, sungai, laut, dan cuaca bukan halangan untuk bertugas. Apalagi Indonesia ini sangat membutuhkan pendidikan," begitulah quotes dari Zuliyati. Bu Zul, begitu panggilan dari Zuliyati  guru SD di pedalaman Mbua, Wamena. Beliau bukan asli Papua tapi berasal dari daerah Muna, Sulawesi Tenggara. Perjuangan dia untuk mengajar sungguh luar biasa. Tidak seperti guru-guru yang ada di kota-kota besar, Bu Zul mengalami berbagai tantangan yang berat. Mulai dari kondisi anak-anak Papua yang diajarnya dulu benar-benar dari nol. Dulu anak-anak yang diajarnya ini masih telanjang ketika datang ke sekolah. Maklum, di pedalaman Papua memang jarang orang yang memakai pakaian seperti kita-kita ini. Mereka belum kenal sama sekali dengan angka dan huruf, bahkan bahasa pun hanya bahasa daerahnya saja yang dipahami. Bu Zul juga berjuang keras belajar bahasa daerah agar bisa mengajar anak-anak.

Dulu ketika jalan belum terbangun, sulit akses transportasi ke tempat tersebut. Akibatnya pernah Bu Zul ini dari pusat kota ke tempat mengajarnya harus jalan kaki selama 2 hari 1 malam. Pada malam tersebut akhirnya Bu Zul ini bermalam di hutan. Padahal tahu sendiri kalau di hutan itu banyak bahaya seperti binatang buas yang siap menerkamnya. Tapi demi bisa mengajar anak-anak bangsa, Bu Zul rela malakukannya. Pernah juga dulu ketika akses jalan belum ada, pasokan makanan ke tempat Bu Zul mengajar sempat terhambat. Ya bagaimana bisa mengajar jika kebutuhan makan saja masih sulit karena itu kebutuhan dasar. Tapi Bu Zul sendiri tidak lantas mundur dalam keadaan tersebut, dia tetap mengabdi dengan mengajar. Bahkan kalau saya lihat cuplikan video wawancaranya, Bu Zul mengajar dengan membawa anaknya. Tanggung jawabnya sebagai ibu juga tidak dilepaskan begitu saja.

Sosok Bu Zul ini bisa menginspirasi kita untuk membangun masyarakat bagaimana perjuangannya. Dia mau untuk berkecimpung di medan yang sangat sulit. Bisa saja dia milih mengajar di kota yang lebih mudah dibandingkan di pedalaman. Atau mungkin mending menjadi ibu rumah tangga saja, fokus mengurus anak sambil ngajar seperti sekarang. Sehingga tidak harus repot-repot Tapi menurutnya, karena ini tugas harus dilakukan sepenuh hati di manapun dia ditempatkan. Perjuangan untuk mengajar banyak pengorbanannya, waktu dan tenaga yang ekstra jelas dikeluarkan. Belajar bahasa baru, membaur dengan budaya baru, berjalan kaki sampai 2 hari bukti pengorbanannya. Bahkan sampai nyawa pun sepertinya rela untuk dikorbankan ketika mau tidak mau harus menginap di hutan. Orang yang karirnya untuk membangun masyarakat memang akan memberikan segala potensi yang dimilikinya untuk masyarakat.

Namun segala pengorbanan yang dilakukan berbuah manis. Banyak anak yang mulai paham ilmu pengetahuan meski masih dasar. Anak-anak mulai terbiasa menggunakan baju berkat didikan Bu Zul dan juga adanya akses jalan sehingga bisa membeli baju. Para guru yang asli setempat merasa bersyukur dengan kehadiran Bu Zul yang sangat membantu. Jika dilihat memang orang yang mengabdikan diri bagi masyarakat akan mendapat penghargaan ketika di dunia. Meskipun tidak diminta, orang-orang akan menghargai usaha dan hasil orang tersebut. Yang paling berharga adalah penghargaan dari Allah yakni surga. Rasul adalah bukti nyata karir yang diarahkan membangun masyarakat dihargai surga. Sehingga tidak perlu ragu jika karir kita diarahkan membangun masyarakat. Jerih payah yang dikeluarkan saat di dunia akan berbuah manis yakni surga. Seperti kata pepatah, dunia itu pahit karena surga itu manis.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya hidup sederhana

Islam dan kehidupan : islam menciptakan kebersamaan

Sistem sempurna kehamilan, penambahan keimanan