Jenderal Sudirman: Berjuang dengan separuh paru-paru Part 1


“Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu aku tunjukan suatu perniagaan yang akan menyelamatkanmu dari siksa yang pedih? Yaitu kamu yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjuang dijalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik jika kamu mengetahui” (QS Ash-Shaff: 10-11)
Assalamualaikum sahabat Youngsterfillah.

Meskipun hari kemerdekaan Indonesia yang ke 73 sudah terlewat, namun jangan sampai kita melupakan jasa-jasa para pahlawan yang berjuang untuk mengusir penjajah. Saya jadi teringat salah satu pahlawan yang saya kagumi yaitu Jenderal Sudirman. Pada masa penjajahan Belanda, Indonesia belum diakui merdeka padahal proklamasi sudah dibacakan sejak 17 Agustus 1945. Belanda pun menduduki beberapa wilayah salah satunya Jakarta. Mau tidak mau ibukota berpindah ke Yogyakarta, Belanda pun melakukan penyerangan dan perjanjian yaitu perjanjian Renville.
  Pada perjanjian tersebut Indonesia dijanjikan kedaulatannya jika menang namun jika kalah Indonesia harus kembali tunduk pada belanda. Setelah perjanjian tersebut ternyata Belanda yang menang akhirnya presiden dan wakilnya ditahan oleh pihak Belanda. Melihat kondisi tersebut, sang pahlawan Jendral Sudirman pun memikirkan perlawanan terhadap Belanda. Beliau memilih strategi untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda secara sembunyi-sembunyi atau dengan Gerilya.
  Saat itu,  Jenderal Sudirman memberikan semangat terhadap anak buahnya agar psikologis mereka terangkat Sudirman mengatakan, “Kita harus hijrah! Hijrah bukan untuk mundur namun terus berjuang hingga titik darah penghabisan. Kita menyusun kekuatan untuk kemudian melakukan penyerangan”. Beliau menggunakan kata hijrah untuk mengganti kata kekalahan yang dialami Indonesia, dan memulai menyusun kembali kekuatan agar bisa mengalahkan Belanda.
  Sebelum berperang, Jenderal Sudirman mengajak Soekarno-Hatta untuk bergerilya, namun mereka lebih memilih bertahan di dalam kota. Bahkan Soekarno menyuruh Sudirman untuk beristirahat mengingat dia baru saja operasi paru-paru. Paru-paru Sudirman mengalama penyakit  TBC sehingga diharuskan untuk operasi dan setelah operasi hanya menyisakan separuh paru-paru saja.
  “Sudahlah Pak Dirman istirahat saja, kan baru keluar rumah sakit,” kata Soekarno. Namun
Pak Dirman mengatakan, “Yang sakit adalah Sudirman, namun seorang Jendral Besar tak pernah sakit. Aku akan bergerilya bersama pasukan ke hutan untuk kemudian melakukan penyerangan  pada Belanda.”
  Berbekal harta istrinya yang menjual perhiasan pribadi, dan dalam keadaan separuh paru-paru sang Jendral Besar ini berangkat dengan pasukannya ke medan gerilya. Jenderal Sudirman bergerilya menyusuri sungai, lembah, gunung dan hutan. Karena sakit, beliau harus ditandu oleh pasukannya namun jika ada jalan yang terjal ia harus berjalan atau digendong oleh pasukannya.
*bersambung

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#biografipahlawanku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya hidup sederhana

Islam dan kehidupan : islam menciptakan kebersamaan

Sistem sempurna kehamilan, penambahan keimanan