Jenderal Sudirman: Berjuang dengan separuh paru-paru Part 2
Mereka menyusuri semua tempat itu sejauh 693 km, selama 7 bulan lamanya. Dalam perjalanan tersebut mereka sesekali bertemu dengan pasukan Belanda dan menewaskan beberapa pasukan dari Jendral Sudirman. Selama perjalanan jauh tersebut, mereka mengalami kelelahan, kelaparan, dan ada pula yang sakit. Bahkan tak jarang yang ingin pulang kerumah kembali bertemu dengan keluarga dan menikmati hidup nyaman. Namun seketika mereka mengurungkan niat tersebut setelah melihat Jenderal mereka yang sakit keras namun tetap teguh dan semangat untuk berjuang demi kemerdekaan NKRI
“Jenderal Sudirman saja sakit keras tapi masih berjuang keras, tapi aku yang sehat apa harus lari dari perjuangan?”
“Tidak! Aku akan tetap berjuang bersama Jenderal Sudirman hingga Indonesia merdeka kembali. Lebih baik mati daripada lari dari perjuangan dalam keadaan sehat!” kata mereka.
“Insyaflah! Barang siapa yang mati, padahal (hidupnya) belum pernah berperang (membela keadilan) bahkan hatinya berhasrat perangpun tidak. Maka matinya diatas cabang kemunafikan,” mereka mengingat hadits Rasul yang sering disampaikan oleh Jenderal Sudirman untuk memotivasi pasukannya.
Surah Ash-Shaff ayat 10-11 juga sering disampaikan kepada pasukannya, ketika semangat kendur maka mereka akan mengingat apa kata Jenderal Sudirman. Ketika melihat Jenderal Sudirman melaksanakan sholat, puasa ramadhan walaupun keadaan sakit keras, mereka pun kembali bersemangat.
Berkat semangat pantang menyerah dalam melakukan gerilya, mereka tidak ketauan oleh Belanda. Mereka melakukan serangan gerilya pada 1 Maret hingga mengakibatkan Belanda kewalahan mengatasi dan akhirnya dapat dikalahkan. Berawal dari peristiwa 1 Maret yang dilakukan jenderal besar Suharto maka ternyata dibalik itu ada peran besar Jenderal Besar Sudirman yang melakukan gerilya.
Akhirnya pada tahun 1949, setelah Belanda dipukul habis oleh pasukan Indonesia karena berkat peran besar Jenderal Sudirman. Indonesia dapat diakui kedaulatannya lewat perundingan di Den Haag Belanda pada tahun 1949. Pada tahun tersebut, Indonesia diakui kedaulatannya oleh PBB dan negara lainnya didunia.
Setelah tahun kemenangan, 1 bulan kemudian Jenderal Sudirman meninggal karena paru-parunya semakin kroni. Jenderal Sudirman meninggal pada usia 34 tahun, dan mungkin tidak bisa menikmati kemerdekaan, namun hasil perjuangannya dinikmati oleh jutaan rakyat Indonesia hingga saat ini.
Jenderal Sudirman sudah tiada, namun hasil karya perjuangannya dirasakan oleh rakyat Indonesia saat ini. Oleh karena itu, kita sebagai pemuda-pemudi Indonesia sudah selayaknya melanjutkan perjuangan beliau dan para pahlawan lainnya. Kalian harus malu jika diri kalian tidak berguna bagi Indonesia. Kini dijalan banyak sekali nama Jenderal sebagai pahlawan Indonesia yang bisa mengingatkan kita akan perjuangan yang tiada hentinya untuk membuat masyarakat menjadi seimbang.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#biografipahlawanku

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkunjung diblog saya..
Saran dan kritik yang membangun dikolom komentar sangat bermanfaat bagi proses belajar saya...
Berdiskusi bisa dikolom komentar...