Warisan Semangat Almh. Een Sukaesih



Ada satu kisah teladan yang bisa kita ambil hikmahnya dari seorang guru bernama Een Sukaesih. Bu Een telah meninggal Desember 2014 silam namun perjuangan hidupnya patut kita tiru. Bu Een meninggal akibat penyakit yang dideritanya. Awalnya Bu Een mengajar seperti guru lainnya di sekolah, pertama kali lulus IKIP Bandung (sekarang UPI) beliau mengajar di sebuah sekolah di Cirebon. Namun hanya bertahan 3 bulan karena tidak kuat melawan penyakit yang dideritanya sejak remaja. Sejak umur 18 tahun beliau sering sakit-sakitan, puncaknya ketika mengundurkan diri menjadi guru beliau mengalami lumpuh total. Kelumpuhan ini disebabkan karena penyakit Rheumatoid Arthritis (RA) semacam penyakit dalam sendi. Sejak tahun 1985 Bu Een mengalami kelumpuhan dan otomatis tidak bisa mengajar di sekolah seperti guru pada umumnya. Bu Een hanya bisa tergeletak di kamarnya, seluruh tubuhnya tidak bisa digerakan kecuali kepalanya saja.

Tangan tak bisa bergerak, kaki tak bisa melangkah, sekedar duduk saja sudah tidak sanggup, seharian hanya berbaring di tempat tidur. 29 tahun berbaring di tempat tidur tidak membuat Bu Een putus asa dengan hidupnya. Selama 29 tahun itu juga Bu Een tetap bisa memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya. Meski tidak mengajar di sekolah, ternyata beliau tetap mengajar di rumahnya. Caranya? Ya betul, dengan kondisi terbaring dan mengandalkan pengajaran secara lisan. Bu Een mengajar anak-anak sekitar rumahnya yang kesulitan dalam hal pelajaran. Awalnya hanya 1-2 anak saja, lama kelamaan makin banyak sehingga kamar Bu Een seperti berubah menjadi ruang kelas di sekolah. Anak-anak yang belajar pun antusias memperhatikan Bu Een selama mengajar. Mulai dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam Bu Een tidak kenal lelah mengajarkan ilmu pada anak-anak tersebut. Anak-anak yang datang juga tidak hanya anak SD, mulai dari anak tingkat SD-SMP banyak yang menerima ilmu dari Bu Een.

Ilmu yang diajarkan juga beragam, seperti PAI, matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris sampai pengenalan komputer. Tak lupa Bu Een juga mendidik akhlaq murid-muridnya, "Itulah kesibukanku sehari-hari. Aku bahagia menjadi bagian perkembangan dan kemajuan mereka. Tak hanya itu, juga kutanamkan ajaran agama dan nilai-nilai kepribadian agar mereka menjadi pintar dan berkarakter baik". Semua dilakukan oleh Bu Een dengan gratis, bahkan sering juga Bu Een mengumpulkan uang untuk membeli alat tulis atau LKS bagi siswa yang benar-benar kurang mampu. Sempat juga Bu Een membantu seorang anak bernama Layla yang mogok sekolah. Layla mogok sekolah karena menjadi korban bullying dari teman-temannya, Layla memang memiliki kekurangan fisik. Bu Een akhirnya membujuk Layla agar sekolah lagi, beliau memotivasi Layla kalau kekurangan fisik bukan hambatan untuk sukses. Karena bujukannya itu Layla mau sekolah lagi hingga akhirnya menjadi sarjana di Universitas Parahyangan Bandung.

Kalau melihat kisah Bu Een ini sangat jelas Bu Een mempunyai semangat yang tinggi di tengah keterbatasan. Semuanya tidak mungkin dilakukan jika tidak mempunyai cita-cita. Hidupnya terasa bermakna karena bisa bermanfaat bagi orang di sekitarnya, itulah yang dia cita-citakan. Tidak bisa mengajar di sekolah namun ternyata bisa mengajar di rumah, walaupun berawal dari segelintir orang yang memintanya buat mengajarkan pelajaran sekolah. Justru segelintir orang ini yang akhirnya membuat orang lain juga mau belajar kepada Bu Een. Di sini Bu Een bisa kembali percaya diri menghadapi kehidupan, walaupun lumpuh total ternyata masih bisa berguna bagi orang lain. Buktinya makin ke sini makin banyak anak yang minta diajarkan beliau. Makin banyak yang minta diajar oleh beliau saya yakin beliau makin percaya diri untuk mengajar walaupun sambil berbaring. Asa untuk bisa berguna bagi masyarakat tetap hidup karena anak-anak itu. Begitulah jika orang punya cita-cita, dalam keadaan terbatas akan selalu percaya diri menghadapi tantangan.

Kita lihat juga karena cita-citanya, Bu Een juga tidak kehilangan ide untuk mengajar. Mungkin tidak pun ya tangan untuk menulis di papan, tapi beliau meminta muridnya untuk yang menulis dan membacakan. Ketika butuh informasi terbaru atau bahan pelajaran sedangkan sulit membuka buku, Bu Een meminta murid-muridnya agar membacakannya. Hambatan bagi beliau adalah hal yang harus dipecahkan, tapi bukan akhirnya mengeluh tapi justru semakin kreatif memikirkan pemecahannya. Begitulah orang yang punya cita-cita akan selalu mencari solusi ketika ada hambatan ketika ingin meraihnya. Dalam keadaan fisik yang lemah Bu Een tetap tegar, lelahnya mengajar dari pagi sampai malam tidak menyurutkan semangatnya. Mungkin lelah, mungkin pegel, bahkan sempet lecet-lecet juga di punggungnya karena seluruh aktifitasnya hanya berbaring. Tapi keluhan itu tidak menyurutkan semangatnya untuk mengajar. Cita-cita yang kuat maka keterbatasan fisik bukanlah halangan. Kita belajar dari Bu Een jika kita punya cita-cita tinggi sesulit apapun tantangan kita mau untuk mengahadapinya dengan percaya diri, tidak kaku berfikir justru semakin kreatif mencari solusi, keterbatasan fisik juga akan kalah dengan besarnya cita-cita. Semoga semangat Bu Een bisa kita tiru ketika kita tahu apa cita-cita kita nanti.

#onedayonepost
#ODOP_6

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya hidup sederhana

Islam dan kehidupan : islam menciptakan kebersamaan

Sistem sempurna kehamilan, penambahan keimanan