Stop politisasi agama
Dengan menyebut nama Allah SWT, yang maha mengasihi terhadap setiap ciptaan-Nya tanpa meminta imbalan apapun dan menyayangi ciptaan-Nya tanpa melihat apapun. Menetapkan seorang suri tauladan pembawa nilai-nilai kebenaran agar manusia dapat mengambil hikmah dari segala perjuangannya, beliau adalah Nabi Muhammad SAW yang senantiasa berjuang bersama keluarga, hawariyyun (sahabat setia) dengan jiwa dan raganya sehingga nilai-nilai kebenaran dapat kita rasakan hingga saat ini.
Menjadi penguasa, itulah yang identik dengan dunia politik dimana demi menjadi penguasa mereka harus memikirkan strategi agar terpilih menjadi penguasa memperoleh simpatik dari masyarakat atau memperoleh kepercayaan dari masyarakat.
Tak jarang saya temukan, politik yang kurang sehat terutama di negeri kita ini. Dan parahnya politik ini membawa nama agama terutama islam karena melihat kondisi mayoritas orang Indonesia adalah orang islam. Contohnya saya amati saat pemilu gubernur provinsi Jawa Barat yang pada saat itu sangatlah disoroti oleh publik bahkan yang paling disoroti media sosial. Saya sering mengamati melalui media sosial ataupun kampanye langsung, yang saya sayangkan agama menjadi sasaran contohnya Hoax terhadap pasangan calon lain, seperti menganggap bahwa pasangan calon lain tidak pro ulama bahkan sampai memberikan statement bahwa paslon lain tidak mendukung ganti presiden kecuali paslon yang bersangkutan. Dan 2019 ganti presiden ini menjadi program andalan mereka sambil menyebarkan berita tentang keburukan presiden saat ini yang identik dengan tidak pro terhadap ulama.
Saya pun menyayangkan hal tersebut, bahkan sampai menyampaikan hal-hal yang sebenarnya tidak terjadi atau kampanye hitam terutama kepada paslon yang memiliki kualitas juga kredibilitas yang tinggi di masyarakat. Paslon tersebut dianggap pro syiah, pro LGBT, dianggap tidak peduli Palestina dan lain lain.
Bahkan dari kampanye hitam tersebut, paslon yang bersangkutan hampir mengalahkan paslon nomer satu terhitung hanya beberapa persen saja selisihnya padahal menurut prediksi paslon yang bersangkutan kemungkinan berada di posisi ketiga. Ini menandakan banyak masyarakat yang termakan oleh berita miring dari paslon bersangkutan yang menyerang paslon lainnya dan sayangnya membawa unsur agama demi kepentingan politik, ini yang dikhawatirkan untuk kemajuan Indonesia juga islam.
Maka penting bagi kita mengambil hikmah dari pemilu Jabar kemarin, dengan niatan berkuasa jangan sampai agama jadi alat politik yang diarahkan untuk kepentingan satu golongan saja, karena dampaknya akan mengganggu kehikmatan dari politik itu sendiri, jikalaupun demikian agama seharusnya bukan diperalat oleh politik namun agama menjadi landasan supaya berpolitik dengan sehat dan adil. Beradu kualitas visi, misi dan program itulah yang diharapkan masyarakat agar tidak buta akan politik namun justru menjadi bersemangat untuk memilih siapa yang lebih berkualitas untuk kemajuan Indonesia dan daerahnya untuk kedepan. Itulah politik yang saya harapkan dimana agama bukan jadi alat bagi politik, namun jadi landasan agar para pemimpin dapat menerapkan amal ma'ruf nahi munkar didalam setiap visi, misi dan programnya sehingga bukan hanya daerahnya saja yang maju namun islam akan terbawa maju karena nilai-nilai nya mengalir didalam kekuasaan yang adil dan makmur.
#nonfiksi
#ODOPbatch6
#opinipolitik

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah berkunjung diblog saya..
Saran dan kritik yang membangun dikolom komentar sangat bermanfaat bagi proses belajar saya...
Berdiskusi bisa dikolom komentar...